Friday, May 12, 2017

[Book Review] Jalan Pendaki oleh Acen Trisusanto

Curcol dikit lah ya, awal mau beli buku ini tuh sebenernya nggak sengaja, waktu itu mau PO bukunya Fahd Pahdepie yang Angan Senja dan Embun Pagi, terus saya lihat di list buku PO ada buku Jalan Pendaki, sebagai traveler ecek-ecek dan penyuka cerita gunung, langsung saya klik aja, kok kayaknya bagus, terus saya cari tau si penulis udah nulis buku apa aja, ternyata sebelumnya si penulis udah ngeluarin buku (ya ditulis rame-rame sih nggak sendiri) yang berjudul Penunggu Puncak Ancala. Eh terus waktu saya cari nama penulisnya di Google, muncullah blog Jalan Pendaki yang ternyata populer banget dan pas saya baca, ceritanya super kocak, gokil, dan seru sampe bikin saya ngakak bnaget. Akhirnya saya balik lagi ke online bookstore buat order buku ini. Yassss!

Jalan Pendaki oleh Acen Trisusanto.



Buku ini bukanlah buku fiksi kayak yang biasanya saya beli. Ini tuh kayak guideline ehmm bukan-bukan, ya buku ini pokoknya buku non-fiksi yang menceritakan pengalaman si Babang Acen tentang mendaki gunung. Intinya mah buku traveling ke gunung.

Tokoh dari buku ini adalah si penulis sendiri, Acen, dan teman-teman naik gunungnya yang sering gonta-ganti. Sama aja kayak blognya, buku ini juga gokil. Penulisannya sama persis kayak di blog tapi bercandaannya lebih sedikit, dan dia nyeritain mendaki ke beberapa gunung yang nggak ditulis di blog dan ada yang melengkapi tulisan yang sengaja dibuat ngegantung pas di blog.

Kisah Acen dimulai dari gimana awal-awal dia pingin naik gunung yang nggak dibolehin sama orangtuanya gara-gara takut anaknya mati atau karena orangtuanya nggak ada duit buat bayarin perlengkapan mendaki gunung (ini anak agak kurang ajar juga sama orangtua, emak bapaknya sendiri dikata-katain, tapi kocak sih), sampai akhirnya dia bisa naik gunung dan sudah melanglang buana naik gunung kesana kemari. Di buku ini ada kisah pendakian Acen ke Gunung Rinjani, Gunung Sindoro, Gunung Raung, Gunung Pangrango, dan Gunung Argopuro. Selain lucu, tapi buku ini juga informatif tentang tempat, perlengkapan mendaki, dan apa-apa aja yang boleh dan nggak boleh dilakukan saat mendaki gunung. Di buku ini juga ada beberapa trivia yang berguna dan yang nggak berguna (tapi tetep lucu dan menghibur, kadang bikin geleng-geleng kepala, seterah penulis aja deh).

Penulis yang keren (menurut saya) adalah penulis yang bisa menggambarkan latar tempat dan waktu secara baik tanpa harus panjang tapi tetep dimengerti dan bisa ikut membawa pembaca seolah-olah sedang ada di sana juga. Apalagi buku tentang traveling, wajib banget harus bisa mendeskripsikannya dengan jelas dan asyik kayak begini.

Saya cukup senang baca buku ini, karena bisa banget menghibur ala ala Acen, si pendaki gunung yang suka galau dan rempong. Oya tapi, saya kzl soalnya buku ini tipis banget, padahal seru banget bukunya. Berharap bukunya bisa setebel Trinity Traveler gitu, moga aja di karya Babang Acen selanjutnya bisa lebih tebel, berkualitas, dan harus tetep lucu dan gila.

Oya, ternyata eh ternyata Jalan Pendaki ini juga merupakan sebuah komunitas yang didirikan oleh Acen Trisusanto. Kayaknya sih populer juga komunitasnya, nama komunitasnya juga Komunitas Jalan Pendaki. Yha udah, pokoknya begitu.

Oya ini lupa, terakhir nih terakhir, buat yang mau kepoin blognya bisa klik di sini.


BHAY! (ala ala Acen)

No comments:

Post a Comment

[Book Review] Supernova: Inteligensi Embun Pagi oleh Dee

Hai, hai, hai kalian semua yang gak sengaja mampir ke blog ini! Kali ini saya mau review buku penulis favorit saya, yaitu Dee atau Dewi...