Wednesday, January 16, 2019

[Book Review] Supernova: Inteligensi Embun Pagi oleh Dee

Hai, hai, hai kalian semua yang gak sengaja mampir ke blog ini!

Kali ini saya mau review buku penulis favorit saya, yaitu Dee atau Dewi Lestari, yang berjudul Supernova: Inteligensi Embun Pagi (selanjutnya akandisebut, IEP). Yaps, buku terakhir dari Supernova series.
Kalau ditanya kenapa nggak review dari buku Supernova: Kesatria, Putri, dan Bintang Jatuh? Ya soalnya saya pinginnya review IEP aja hahaha next time kalau saya menyempatkan waktu, rencana mau buat review lengkap dari buku pertama.

Oke skip, langsung aja ke review-nya!

Judul buku: Intelegensi Embun Pagi
Penulis : Dee Lestari
Tebal halaman: 690 halaman
Penerbit: Bentang Pustaka
Tahun terbit: 2016

Sinopsis (dari back cover buku IEP)

Setelah mendapat petunjuk dari upacara Ayahuasca di Lembah Suci Urubamba, Gio berangkat ke Indonesia. Di Jakarta, dia menemui Dimas dan Reuben. Bersama, mereka berusaha menelusuri identitas orang di balik Supernova.

Di Bandung, pertemuan Bodhi dan Elektra mulai memicu ingatan mereka berdua tentang tempat bernama Asko. Sedangkan Zarah, yang pulang ke desa Batu Luhur setelah sekian lama melanglangbuana, kembali berhadapan dengan misteri hilangnya Firas, ayahnya.

Sementara itu, dalam perjalanan pesawat dari New York menuju Jakarta, teman seperjalanan Alfa yang bernama Kell mengungkapkan sesuatu yang tidak terduga. Dari berbagai lokasi yang berbeda, keterhubungan antara mereka perlahan terkuak. Identitas dan misi mereka akhirnya semakin jelas.

Hidup mereka takkan pernah sama lagi.

---

Sebagai fans berat Mak Suri Dee, begitu tau buku terakhir Supernova series mau terbit, saya langsung kalang kabut, tiap hari mantengin feed instagram Dee buat nungguin kapan PO dibuka biar cepet dapet bukunya dan dapet ttd penulisnya hehehe. Begitu pengumuman tanggal PO dibuka, saya langsung mark kalender di hp, saat tiba tgl 5 Februari 2016 langsung buka online bookstore, klik klik beli transfer dan nungguin si bungsu ini nyampe ke rumah.

Rasanya tuh seneng, sekaligus sedih waktu tau buku ini mau terbit, kayak ingin menguak misteri sekaligus akan segera berpisah dari tokoh-tokohnya. Kraiiii. Menunggu selama...15 tahun tapi kalau saya mulai baca seri ini dari tahun 2011 sih (saat Partikel mau terbit) jadi ya nunggunya nggak lama banget. Cuma tetep aja penasaran gimana kisahnya tiap buku yang ceritanya masih menggantung menunggu diselesaikan.

Dari semua seri Supernova, IEP ini pamungkasnya (iya udah disebutin berkali-kali), di novel ini alurnya bener-bener cepet tapi seru, banyak banget twist yang bikin saya kaget dan meleset dari apa yang saya bayangkan. Kata-kata seperti: HAH?, WHAT?, APAAN NIH!, IH!, LOH KOK GITU, SIAL SIAL!, LAH TERNYATA DIA BUKAN INI?, TERNYATA INI SI ...?" dan berbagai macam ekspresi lainnya akan datang ketika baca buku ini.

Di buku ini, adalah tempat reuni para tokoh seri Supernova mulai dari Gio, Ferre, Diva, Reuben, Dimas, Bodhi, Bong, Guru Liong, Kell, Elektra, Mpret, Sati, Zarah, Firas, Alfa, Isthar, dan lain-lain. Di buku ini, akan dikuak siapa mereka sebenarnya dan apa tujuan mereka masing-masing, serta misi yang harus mereka laksanakan. Istilah peretas, infiltran, sarvara, dan umbra akan sangat banyak muncul di IEP. Get ready!

Tokoh yang paling saya suka di seri Supernova adalah Elektra alias Etra, Toni Mpret, dan Alfa Sagala. Selain itu, saya juga suka sama Chen-dol Team gila yaitu Kell dan Bodhi. Kalau ditanya kenapa suka Elektra, jawabannya adalah karena Etra anaknya bodor dan gokil, dia juga cukup berperan penting saat memecah dan menyatukan kembali gugus Asko. Kalau ngomongin Etra, gak afdol tanpa Mpret, yups si bos jabrik yang low maintenance ini ternyata juga karakter favoritnya Mak Suri loh hehe. Si ganteng Alfa Sagala udah jelas favorit khalayak ramai karena dia tampan, pintar, pekerja keras, dan pemberani. Iya, Alfa sesempurna itu. Tapi tenaaaang, buat yang suka sama Gio, nah di sini akhirnya Gio bisa muncul secara utuh, gak cuma kepingan yang pegang kunci aja. Aku pun jatuh cinta dengan Gio ehe. Oya, kalau kalian nyari Diva di sini... terjawab tapi... ah sudahlah. Setelah baca buku ini sampai halaman terakhir, rasanya tu...... Mak Suri jahara dehhh akutu dibiarin penasaran terosssss.

Ehhh balik lagi nih ke review buku... ehm tapi jadi gak jelas gini review-ku hikzzz.
Gimana sih review buku yang bener selain cuma bilang 'ih seru!' ehe

Salam nggak jelas,
Frela

Friday, May 12, 2017

[Book Review] Jalan Pendaki oleh Acen Trisusanto

Curcol dikit lah ya, awal mau beli buku ini tuh sebenernya nggak sengaja, waktu itu mau PO bukunya Fahd Pahdepie yang Angan Senja dan Embun Pagi, terus saya lihat di list buku PO ada buku Jalan Pendaki, sebagai traveler ecek-ecek dan penyuka cerita gunung, langsung saya klik aja, kok kayaknya bagus, terus saya cari tau si penulis udah nulis buku apa aja, ternyata sebelumnya si penulis udah ngeluarin buku (ya ditulis rame-rame sih nggak sendiri) yang berjudul Penunggu Puncak Ancala. Eh terus waktu saya cari nama penulisnya di Google, muncullah blog Jalan Pendaki yang ternyata populer banget dan pas saya baca, ceritanya super kocak, gokil, dan seru sampe bikin saya ngakak bnaget. Akhirnya saya balik lagi ke online bookstore buat order buku ini. Yassss!

Jalan Pendaki oleh Acen Trisusanto.



Buku ini bukanlah buku fiksi kayak yang biasanya saya beli. Ini tuh kayak guideline ehmm bukan-bukan, ya buku ini pokoknya buku non-fiksi yang menceritakan pengalaman si Babang Acen tentang mendaki gunung. Intinya mah buku traveling ke gunung.

Tokoh dari buku ini adalah si penulis sendiri, Acen, dan teman-teman naik gunungnya yang sering gonta-ganti. Sama aja kayak blognya, buku ini juga gokil. Penulisannya sama persis kayak di blog tapi bercandaannya lebih sedikit, dan dia nyeritain mendaki ke beberapa gunung yang nggak ditulis di blog dan ada yang melengkapi tulisan yang sengaja dibuat ngegantung pas di blog.

Kisah Acen dimulai dari gimana awal-awal dia pingin naik gunung yang nggak dibolehin sama orangtuanya gara-gara takut anaknya mati atau karena orangtuanya nggak ada duit buat bayarin perlengkapan mendaki gunung (ini anak agak kurang ajar juga sama orangtua, emak bapaknya sendiri dikata-katain, tapi kocak sih), sampai akhirnya dia bisa naik gunung dan sudah melanglang buana naik gunung kesana kemari. Di buku ini ada kisah pendakian Acen ke Gunung Rinjani, Gunung Sindoro, Gunung Raung, Gunung Pangrango, dan Gunung Argopuro. Selain lucu, tapi buku ini juga informatif tentang tempat, perlengkapan mendaki, dan apa-apa aja yang boleh dan nggak boleh dilakukan saat mendaki gunung. Di buku ini juga ada beberapa trivia yang berguna dan yang nggak berguna (tapi tetep lucu dan menghibur, kadang bikin geleng-geleng kepala, seterah penulis aja deh).

Penulis yang keren (menurut saya) adalah penulis yang bisa menggambarkan latar tempat dan waktu secara baik tanpa harus panjang tapi tetep dimengerti dan bisa ikut membawa pembaca seolah-olah sedang ada di sana juga. Apalagi buku tentang traveling, wajib banget harus bisa mendeskripsikannya dengan jelas dan asyik kayak begini.

Saya cukup senang baca buku ini, karena bisa banget menghibur ala ala Acen, si pendaki gunung yang suka galau dan rempong. Oya tapi, saya kzl soalnya buku ini tipis banget, padahal seru banget bukunya. Berharap bukunya bisa setebel Trinity Traveler gitu, moga aja di karya Babang Acen selanjutnya bisa lebih tebel, berkualitas, dan harus tetep lucu dan gila.

Oya, ternyata eh ternyata Jalan Pendaki ini juga merupakan sebuah komunitas yang didirikan oleh Acen Trisusanto. Kayaknya sih populer juga komunitasnya, nama komunitasnya juga Komunitas Jalan Pendaki. Yha udah, pokoknya begitu.

Oya ini lupa, terakhir nih terakhir, buat yang mau kepoin blognya bisa klik di sini.


BHAY! (ala ala Acen)

Monday, January 16, 2017

[Beauty Review] Wardah Pure Olive Oil | Mengatasi Kulit Wajah Kering

Halo guys! Pada post kali ini akan berbeda dengan posts-ku sebelumnya yang berisikan curhat, thoughts, book review, atau drama review. Kali ini aku mau bahas soal skincare. Yaps! Jadi, waktu aku tinggal di Malang, aku mulai care sama wajahku yang biasanya aku biarin aja apapun yang terjadi hahaha (anak males).

Malang itu kota yang dingin (anggep aja gitu dibanding Cirebon, Tangerang, atau Surabaya) dan seiring dengan pergantian cuaca, aku mengalami kulit wajah yang super kering (sebelumnya kulitku memang sudah kering, boleh dibilang dry to normal). Kulitku rasanya nggak enak terus agak perih dan kadang sedikit gatal gitu. Aku kasih moisturizer atau day cream dari Larissa juga nggak mempan, akhirnya aku mikir dan searching sana-sini sampe akhirnya aku memutuskan buat beli olive oil atau viva special day cream. Pergilah aku ke toserba dan lihat pure olive oil dari wardah,langsung aku beli dan aku coba sampe kos.

Aku pake olive oil ini setiap hari saat pagi dan malam, dan di saat mukaku lagi kering banget. Awalnya aku lebay sih makenya banyak banget sampe aku ngerasa mukaku kayak tambang minyak hahaha tapi akhirnya aku adjust dan setelah seminggu pake wardah olive oil ini, aku merasa kulitku membaik dan udah gak begitu perih. Pokonya setiap pagi aku selalu pake olive oil ini tipis-tipis baru pake moisturizer dan kulitku akan aman sampe matahari tenggelam. Untuk malamnya aku hanya pake si olive oil ini aja, aku berhenti dulu pake krim malam. Selain itu, kalo kulitku lagi kering gini aku hampir nggak pernah pake bedak karena aku merasa kulitku akan makin kering. Oh iya, area bibir juga nggak pernah absen buat aku olesin pake olive oil ini biar si bibir juga nggak kering.


Photo credit: wardahbeauty.com

Oh iya, olive oil ini nggak Cuma aku pake di wajah doang, aku sering banget nyampurin olive oil ini sama body butter atau body lotion-ku karena aku merasa kulit badanku tuh kering banget hikzzzz dan yah hasilnya beneran oke.

Percobaanku dengan olive oil wardah nggak cuma sampe situ aja. Aku juga pake oilive ini ke area kulitku yang gampang kapalan kayak di kaki dan telapak tangan dan lagi-lagi bisa bikin kulitku yang kapalan jadi lumayan lembut dan seiring dengan berjalannya waktu, kapalan di ujung jempol kaki dan di bawah jari kelingking telapak tangan itu mulai terasa lembut (sering aku keletekin juga sih, nggak sabaran).

Saat aku selesai kuliah dan pindah ke Cirebon, kukira masalah kulit super kering ini bakalan gak datang lagi ehh nggak taunya tetep aja datang saat cuaca lagi pancaroba tapi ya memang nggak separah kayak waktu di Malang. Setiap pagi aku pake olive oil ini terus aku baru pake wardah hydrating moisturizer cream (walaupun moisturizer wardah ini udah cukup berminyak tapi menurutku masih kurang hahaha makanya aku oplos sama olive oil). Oh iya btw aku sudah berhenti pake day cream dari Larissa karena di Cirebon nggak ada Larissa, beralihlah aku ke drugstore product yang bisa ditemui di seluruh penjuru kota di Indonesia. Untuk malam hari, aku hanya pake olive oilnya saja. Aku pake metode seperti ini sampai aku merasa kulitku sudah membaik.

Over all, aku suka banget sama wardah olive oil ini karena dia ringan dan baunya juga nggak minyak banget. Olive oil dari wardah ini andalanku banget deh kalo kulitku lagi super kering kayak gurun sahara. Selain itu, olive oil ini bener-bener multifungsi, bisa dipake dari ujung rambut sampe ujung kaki (walaupun aku belum pernah pake untuk rambut). Harga olive oil ini terjangkau banget, isi 50ml dengan harga sekitar Rp 20.000 (aku beli tahun 2014 kalo nggak salah). Aku sudah setia sama produk ini sekitar 2 tahun and it still really works on me.

Buat kalian yang juga pernah mengalami kejadian kulit wajah super kering da belum menemukan solusi, boleh banget caraku ini dicoba. Setahuku, olive oil ini kan oil, jadi ya inshaAllah nggak mengandung bahan kimia aneh-aneh yang bisa merusak kulit wajah. Atau buat kalian yang pernah mengalami hal kayak gini, boleh juga komen dan share gimana cara kalian mengatasinya.


Oke segitu dulu post-ku kali ini. Semoga bisa bermanfaat buat kalian semua!!!

Thursday, January 05, 2017

[Book Review] Resensi Novel Critical Eleven oleh Ika Natassa


Halo!!! Balik lagi nih di blogku yang sudah lama ga keurus karena ya memang sibuk… eh tepatnya sih males ngurus karena terkendala koneksi internet wkwkwk

Ya jadi kali ini aku mau meresensi salah satu novel favoritku di tahun 2015. Yep, udah agak lama memang tapi siapa tahu kan tulisan ini bisa membantu kalian yang sedang galau mau beli buku ini, atau lagi butuh bacaan baru.





Judul Buku : Critical Eleven
Penulis : Ika Natassa
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Desain Sampul : Ika Natassa
Editor : Rosi L. Simamaora
Jumlah Halaman : 344 hlm (softcover)
Genre : Nonfiksi, Romance - MetroPop
ISBN : 978-602-03-1892-9
Tahun terbit : 2015, Agustus
Harga : Rp 79.000,00

Sinopsis :

Dalam dunia penerbangan, dikenal istilah critical eleven, sebelas menit paling kritis di dalam pesawat—tiga menit setelah take off dan delapan menit sebelum landing—karena secara statistik delapan puluh persen kecelakaan pesawat umumnya terjadi dalam rentang waktu sebelas menit itu. It's when the aircraft is most vulnerable to any danger.

In a way, it's kinda the same with meeting people. Tiga menit pertama kritis sifatnya karena saat itulah kesan pertama terbentuk, lalu ada delapan menit sebelum berpisah—delapan menit ketika senyum, tindak tanduk, dan ekspresi wajah orang tersebut jelas bercerita apakah itu akan jadi awal sesuatu ataukah justru menjadi perpisahan.

Ale dan Anya pertama kali bertemu dalam penerbangan Jakarta-Sydney. Tiga menit pertama Anya terpikat, tujuh jam berikutnya mereka duduk bersebelahan dan saling mengenal lewat percakapan serta tawa, dan delapan menit sebelum berpisah Ale yakin dia menginginkan Anya.

Kini, lima tahun setelah perkenalan itu, Ale dan Anya dihadapkan pada satu tragedi besar yang membuat mereka mempertanyakan pilihan-pilihan yang mereka ambil, termasuk keputusan pada sebelas menit paling penting dalam pertemuan pertama mereka.

Diceritakan bergantian dari sudut pandang Ale dan Anya, setiap babnya merupakan kepingan puzzle yang membuat kita jatuh cinta atau benci kepada karakter-karakternya, atau justru keduanya.

----

Begitulah sinopsis novel ini yang terletak di belakang cover bukunya.
Di novel ini diceritakan ada 2 tokoh utama yaitu Tanya Baskoro atau lebih ngetren dipanggil Anya dan Aldebaran Risjad yang kerap disapa Ale. Diceritakan, Anya adalah seorang wanita karir yang berprofesi sebagai management consultant di Jakarta yang cukup sukses.
Anya adalah seorang wanita ibukota yang cerdas, ceplas-ceplos, memiliki karakter yang kuat, dan suka baper hahaha. Anya memiliki seorang suami yang bernama Ale.
Ale adalah seorang petroleum  engineer yang bekerja di rig yang bertempat di Teluk Meksiko yang memaksa harus berjauhan dengan Anya. Ale adalah seorang pekerja keras, kharismatik, baik hati, kadang suka malu-malu dan Ale suka bikin baper… ga cuma ke Anya doang tapi ke saya juga hahaha. Oh iya, si Ale juga suka merasa kalo dia adalah nobody’s favorite.

Jika dilihat dari judul dan cover-nya, saya pikir novel ini akan bertemakan orang-orang yang bekerja di dunia aviasi di mana salah satu atau beberapa tokohnya bekerja sebagai pilot atau pramugari tapiiii ternyata saya salah. Novel ini menceritakan tentang pertemuan dua orang manusia ketika berada di atas pesawat penerbangan ke Australia. Di sini penulis mengaitkan antara 11 menit paling kritis di dunia penerbangan dengan pertemuan antarmanusia. Menurutku ini ide yang cukup unik namun sayangnya kaitan tersebut hanya berlaku untuk introduction dari keseluruhan cerita ini saja. Anya dan Ale bertemu di pesawat, kemudian berkenal dan terus berlanjut hingga akhirnya memutuskan untuk menikah walaupun mereka harus berhubungan jarak jauh, namun itu bukanlah masalah bagi Anya dan Ale. By the way, unsur romantisme cukup kental dalam novel ini, romantisnya pun romantis a la Ale ke Anya yang bikin saya suka senyam-senyum dan blushing sendiri gara-gara baca cerita ini.
Distance are no matter since someone means so much, right?

Kehidupan rumah tangga Anya dan Ale yang awalnya berjalan sangat mulus walaupun LDR, tiba-tiba ditimpa suatu tragedi yang membuat mereka berdua akhirnya hanya saling bertegur sapa seperlunya walaupun masih tinggal satu atap. Tragedi itulah yang membuat Anya dan Ale flashback kepada masa lalu dan tentang keputusan yang mereka ambil sejak pertemuan mereka di 11 menit paling kritis… eaaa.
Apakah Anya dan Ale akan berpisah? Atau akankah mereka bersatu kembali?
Nah ini, silakan baca bukunya karena saya nggak mau kasih spoiler, biar kalian penasaran hahahaha

Alur yang ada pada novel ini adalah alur maju mundur. Kadang ceritanya maju tapi ya banyak juga flashback-nya di setiap kegiatan yang beralur maju tersebut. Jadi setiap Anya atau Ale sedang melakukan atau mengingat suatu hal maka hal tersebut akan membangkitkan kejadian atau ingatan di masa lampau. Kadang sebagai pembaca, saya agak bingung dengan alur yang maju mundur tapi penulis cukup lihai dan cekatan untuk membelokkan atau ya meluruskan alur yang mundur jadi maju atau sebaliknya (apa mungkin ini saya aja yang suka lama mikir ya, kalo baca buku maju mundur terus suka nggak ngeh ini udah di mana, jadi mesti bolak-balik halaman). Walaupun dengan alur yang maju mundur cantik tapi saya tetap bisa menikmati novel ini dengan baik dan asyik.

Latar tempat yang digunakan dalam cerita ini adalah Kota Jakarta, pesawat saat mereka bertemu, rig Ale di Teluk Meksiko, rumah Anya dan Ale, Australia, dan Amerika. Sebagian besar latar berada di Kota Jakarta yang modern dan kekinian. Penulis menggambarkan latar tempat dan waktu dengan begitu baik, sehingga pembaca dapat berimajinasi dengan nyata, saya membayangkan waktu mereka di New York dan saat Ale ada di rig. Di mana kedua tempat tersebut belum pernah saya kunjungi, namun saya seperti berada di tempat tersebut.

Gaya bahasa yang digunakan penulis dalam cerita ini cukup ringan dengan bahasa bilingual eh salah maksudnya bahasa campuran Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris yang merupakan ciri khas yang selalu dibawa oleh penulis di setiap novelnya. Di sela-sela kalimat bahasa Indonesia terselip Bahasa Inggris dan banyak juga yang dengan Bahasa Inggris. Pokoknya khas Ika Natassa banget.
Sudut pandang yang digunakan oleh penulis adalah sudut pandang orang pertama sebagai pelaku utama yang diperlihatkan dari kedua sisi tokoh utama yaitu Anya dan Ale. Saya senang dengan sudut pandang kayak gini, jadi sebagai pembaca kita nggak perlu sibuk menerka-nerka gimana perasaan si dua tokoh utama ini karena mereka punya sudut pandangnya masing-masing jadi makin bikin geregetan dan gemes.

Oh iya, di novel Critical Eleven ini juga ada semacam sequel dari Antologi Rasa (novelnya Ika Natassa juga yang kalo nggak salah terbit di tahun 2011) tentang si Harris Risjad dan Keara. Jadi pas baca buku ini, saya merasa one plus one, dapat ceritanya Anya-Ale yang bikin terenyuh dan tiba-tiba muncul si playboy Harris dengan best-friend-turn-into-lover kesayangannya, Keara~~. Buat kalian yang penasaran cerita setelah Antologi Rasa, bacalah ini! Bagi yang belum pernah baca Antologi Rasa, mungkin Harris hanya dianggap sebagai adiknya Ale ‘saja’.

All in all, sepanjang membaca novel ini saya ikut galau gundah gulana bersama Ale dan Anya. Ada beberapa bagian juga yang ceritanya bikin seribu Tanya sesak di dada. Jadi yang belum pada baca novelnya, ayo buruan baca. Menurut saya novel ini bisa dikategorikan recommended bagi kalian yang suka genre romance dengan sentuhan angst. Ya gitu deh pokoknya!!!

Selain itu ada kabar gembira juga buat para pecinta Critical Eleven. Yep, yep, yep! Critical Eleven ini akan hadir di layar lebar~~~ Yeaaay!!! Pasti penasaran kan gimana ceritanya akan diadaptasi ke film? Sama! Semoga dengan Reza Rahadian sebagai Ale dan Adinia Wirasti sebagai Anya akan bisa memenuhi fantasi kita sebagai pembaca. Bukan memenuhi fantasi ding… semoga aja Reza dan Asti akan membangun chemistry yang keren karena kan tiap fantasi orang beda-beda ya. Pokoknya jangan datang ke bioskop dengan modal membandingkan cerita novel dan cerita film, you’ll only criticize and complaint about the movie. Sebenarnya, saya juga berekspektasi tinggi sama film Critical Eleven karena kayaknya Ika Natassa terjun langsung dan no doubt kalo Reza Rahadian dan Adinia Wirasti adalah salah satu aktor dan aktris yang keren di negeri ini. Kemarin-kemarin juga saya lihat feed-nya Ika Natassa dan Adinia Wirasti di Instagram, mereka lagi ada di set syutingnya Critical Eleven di New York dan di rig. Hmm makin bikin penasaran. We lean on you! Semoga Ale bisa bikin kami makin baper hahahaha~~~

Poster film Critical Eleven. Photo credit: kapanlagi.com

Ayo buruan baca sebelum filmnya tayang dan kalo nggak sempat ya nonton filmnya dulu baru baca juga nggak masalah hehe

Psst karena ini sudah 2017, kisah Anya dan Ale pun berlanjut di buku Ika Natassa yang terbaru yaitu Architecture of Love. Di situ ada secuil kisah Anya dan Ale yang bikin aku senang banget sama akhir dari kisah mereka berdua. Mihihihi :D

Okay, segitu dulu ya posting kali ini. Semoga tulisan ini bermanfaat dan siap-siap terkena sindrom Ale (kalo kamu cewek) ~~~

"If you have nothing to lose, you have nothing to fear. The deeper love grows, and the more you don’t want to lose it, the more your fear grows. Love feeds on fear."
"What overcomes that love-fueled fear is love itself."
(Binggeure, Reply 1994)


Warm regards,
Frela

Saturday, March 07, 2015

Ruang Ketakutan

Gilakkkk udah ga paham lagi, udah lama banget ninggalin blog ini... sedih
Ingin sih selalu rutin ngepost di blog tapi apa daya... suka lupa (padahal wifi 24 jam)


Pas comeback langsung aja gitu ngepost dengan judul Ruang Ketakutan, udah berasa kayak Divergent series aja gak sih? Eh tapi seri keduanya Insurgent mau rilis lho Maret ini, semoga ga mengecewakan yah!!! (jadi inget pemeran Uriah, harusnya ganteng eh eh maap malah ga fokus)

Yahhh intinya postingan kali ini terinspirasi dari Divergent series, karena menyangkut ketakutan dan kepikiran buat nulis di blog... Oke lanjut, maap banyak intro.

Jadi di usia saya yang sudah bukan remaja lagi, alias angka 1 di depan umur udah bhay sedih... kok saya merasa banyak ketakutan-ketakutan baru yang muncul dalam kehidupan saya, ya ada beberapa ketakutan lama yang mulai hilang juga sih. Ada yang baru ada juga yang hilang.
Jadi kalo dulu saya takut banget sama ketinggian tapi alhamdulillah sekarang udah selow aja, bisa mengendalikan. Sekarang saya malah suka takut kalau berenang, kalo dulu renang di 4m atau 6m sih ayo ayo aja, sekarang mah ya jangan ditanya, di 2m aja udah ga berani, pasti bawaanya panik takut kelelep, takut mati ga ada yang nolongin. Lebay sih, emang iya!!! Pernah nyoba buat melawan rasa takut itu tapi tetep aja ga bisa setenang dulu, bawaannya was-was terus, kan kesel jadi ga kece lagi ga bisa berenang di tempat yang dalem hiksss
Nah kalo tadi kan soal berenang... soal ketakutan yang datangnya dari faktor eksternal diri saya dari kedalaman air, tapi ternyata setelah saya sadari ketakutan dalam diri saya itu makin banyak terutama buat menjalani hidup. Bukan, bukan, saya sama sekali bukan putus asa dalam hidup, ya cuma perasaan takut aja. Takut gagal, takut dengan lingkungan baru, takut menjalani usia dewasa, dan takut-takut lainnya yang sebenernya kalo disimpulkan itu saya takut sama diri saya sendiri.
Untuk variasi takutnya ya udah saya sebutin kayak di atas.
Setelah saya sharing sama beberapa sahabat, mereka bilang itu wajar karena kita memang dipaksa untuk dewasa, jadinya kita makin mikir gimana caranya biar kehidupan ke depan kita bisa menyingkirkan rasa takut yang tidak beralasan tadi karena kita juga belum pernah mengalaminya, dan momen-momen menjengkelkan dalam hidup itu masih banyak lagi, jadi takutnya disimpen aja buat nanti-nanti.
Nah sebenernya sekarang juga saya lagi takut karena lagi dikejar deadline supaya lulus di semester ini, entahlah gimana caranya harus lulus yah walaupun saya banyak takut dan bingungnya.... (ini serius). Doakan ya para teman atau yang ga sengaja mampir dan baca ini, doakan agar segalanya dilancarkan dan dipermudah oleh Allah swt. Soalnya kan kita cuma boleh takut sama Allah aja, ya kan?

So segitu dulu aja, semoga saya cepet lulus aaamiin.



Frela, Maret 2015, lagi galau skripsi di kamar kos

Wednesday, September 03, 2014

Life's Bucket List Checked! Episode Bromo

Hmmmmmm....
Udah lama banget gak ngeblog, dan kayaknya emang nggak niat juga gara-gara semester 4,5,6 itu super sibuk. Sibuk aja sih, nggak sibuk banget sebenernya.
Ya..... hampir 1,5 tahun nggak ngeblog merupakan hal sadis yang saya lakukan sebagai seorang yang mengaku blogger.

Okay, just forget it! Here I'm back again because there's a thing that I have to post it.
And I think it's interesting enough for me and I hope you can enjoy it! :)))

Yaaaaaappps, everyone has her/his own bucket list! So do I.
From the place that we have to go, things to buy, things to eat, what to achieve, and so on.
And as an Indonesian citizen, I guess everyone wants to go to Bromo. Yeah!
It's located in Taman Nasional Bromo Tengger Semeru between three regions which are Malang, Probolinggo, and Lumajang.
I think everyone know about it.

Yak, jadi ceritanya saya ini udah tinggal di Malang kurang lebih 3 tahun buat kuliah.
Kata orang sih kalo tinggal di Malang, Bromo adalah tempat yang wajib dikunjungi sebelum lulus.
Oke sebelum lulus! Nah karena saya juga sudah mulai menginjak semester tua yaitu semester 7.
Kebetulan saya lagi libur dan alhamdulillah setelah berencana berkali-kali akhirnya saya dikasih izin sama Allah dan juga sama mama buat ikut ke Bromo bareng AIESECer.
Yap, karena ini pengalaman pertama saya jadi yahhh saya excited banget tapi saya pura-pura woles soalnya yang lain udah pada berkali-kali ke Bromo. Sedih kan? Iya sih sedih aja.
Oh iya buat persiapan ke Bromo, saya pake kaos lengan panjang sama pake sweater doang. Tapi buat jaga-jaga akhirnya saya bawa 1 jaket lagi. Terus sebelum berangkat, saya mampir dulu ke kosan temen buat numpang makan sama minjem kamera, abis itu tiduran dulu nunggu jam 22.30 buat kumpul di JPC UB. Pas saya mau berangkat untung aja temen saya baik banget bawain sarung tangan, katanya sih buat jaga-jaga kalo saya kedinginan. (Bellyn, thanks btw. Beneran berguna sarung tangannya!!! muah). Akhirnya udah jam 22.30 saya bernagkat dari ke kos Bellyn jalan kaki ke JPC UB, hmmmm lumayan jauh. Bukan masalah jauhnya tapi udah malem, sepi, dan gelap. Yaudah doa aja.
Akhirnya nyampe JPC dengan manis. Dari UB, saya sama temen-temen berangkat pukul 00.00 naik travel lewat Tumpang terus nyampe di daerah.... duh lupa namanya terus pindah naik Jeep buat naik ke atas.
Sebenernya kalo pas langitnya terang alias masih pagi atau siang gitu pemandanagnnya bagus tapi berhubung malem jadinya yahhhhh nikmati aja perjalanannya.
Mau tidur juga bingung, jalanannya lumayan bikin gak bisa tidur apalagi saya duduk di belakangnya supir, bingung nyari posisi enak buat tidur pfffft padahal ngantuk banget.
Setelah kurang lebih 1 jam perjalanan naik Jeep dari Desa XXX (lupa nama desanya), akhirnya kita sampe di parkiran Jeep daaaaaaan waktu turun dari Jeep brrrrrrrr dingin meeen anginnya mulai kerasa, Entah berapa derajat. Saya langsung ambil jaket, pake sarung tangan, dan pake masker. Udah macem teddy bear bermasker deh.
Dari Jeep itu kita masih harus jalan nanjak dulu ke atas, sebenernya sih gak jauh sekitar 15-20 menit tapi karena rumpi, cari toilet, dan kedinginan alhasil kami makan waktu hampir satu jam buat nyampe ke Pananjakan yaitu spot buat liat sunrise.
Ternyata eh ternyata di Pananjakan udah ruameeeeee banget hmmmm padahal langit masih gelap, masih 03.30 dinihari... tapi pemandangannya keren. Banyak bintang bertaburan.
Jadi inget lagunya Coldplay - The Sky Full of Stars hahaha. Jadi pengen syuting MV (loh?)
Terus saya ngeluarin kamera buat foto bintang etapi gak keliatan apa-apa hiksss hasilnya kurang lebih begini.

Berasa bukan bintang tapi butiran debu
Tuh kan gak jelas, hmmm kameranya nih hahahaha.

Sembari ngabisin waktu ya kita selfie-selfie bahagia.

Nggak siap selfie, pardon our face

Selfie bahagiaaa
Yahhh maklum aja anak muda jaman sekarang, walaupun wajahnya kulu-kulu tapi tetep aja selfie. Tuh lihat si bule UK, Taiwan, Mesir. Polandia, Jerman, sama Tunisia aja bahagia diajak selfie since selfie is a big hit.

Nah bais selfie ini kita cari spot yang bagus buat nikmatin sunrise, tapi ohemji susah banget nyari spotnya soanya padet banget ditambah orang-orang udah dengan gadget dan tools-nya yang diangkat-angkat buat mengabadikan sunrise Bromo... sebenernya saya juga pingin tapi apa daya saya nggak tinggi jadi cuma bisa motret seadanya hiksss padahal aslinya saya pingin nikmatin sunrise murni eaaaaaa.

Ini beberapa foto sunrise yang saya ambil, tapi yang bening dan jelas itu jepretannya si Alit, terus pas matahari nongon saya tapi minta tolong ke si Bram yang lebih tinggi hahahaha
Matahari mulai ngasih pertanda bakal nongol, masih malu-malu

Kelihatan kayak senja padahal subuh

Senja pagi hari

Matahari mulai muncul, aslinya bagus banget!!!

Kalo foto Mahameru ini baru asli jepretan saya, emang gak bagus sih..... tapi saya suka aja jepret Mahameru dengan senjata kamera yang pas-pasan dan karena rame jadi jepretnya juga susah buat nyari angle yang pas. Eaaaaaaa.
Mahameru!
Setelah liat sunrise terus kita foto-foto dulu sama Bromo dari Pananjakan.
Duh miring, kelihatan gak pro banget. But still, it's good because it's Bromo, aight?

As we could see, walaupun jepretnya ngasal tapi kayak foto di kalender. Kereeeen!

With Bromo as background. Etapi ketutupan yak maap.

Puas foto-foto kita lanjut buat makan-minum dulu, lapar sekali daaaaaan cuma ada jagung bakar sama mi instan. Saya memutuskan buat minum kopi dan air mineral aja. Pagi-pagi makan mi.... gak tega sama kesehatan hahaha sok sehat banget.

Abis makan kita balik ke parkiran Jeep buat lanjutin perjalanan ke pasir berbisik (lupa namanya apaan). Kemudian kita foto-foto lagiiii!

Folks

Happy

Foto sepatu biar kayak anak gawl
Vicky perusak momen foto lompat -_____-

Setelah dari lautan pasir, kita lanjut ke kawah Bromo but wait there's a long way to go. Masalahnya itu bukan 200 anak tangga tapi jalan dari parkiran Jeep menuju tangga itu udah sesuatu banget. Udah pasir, nanjak, twist kotoran kuda, dan debu pasir yang kena angin atau saat ada kuda lewat. Combo!!!
Sebenernya sih pengen nggak naik tapi udah jauh-jauh ke Bromo masa gak liat kawahnya yaa walaupun kawah mah dimana-mana sama aja... tapi malu sama diri sendiri sama temen-temen dan sama temen-temen dari luar negeri kalau gak naik hahaha. Walaupun capek akhirnya nyampe di atas!!!
Yappp dari atas sini kita bisa liat kawah, gunung batok yang di depan mata, dan lautan pasir. keren deh pokoknya tapi karena saya lelah jadi yah dinikmati seadanya hahaha worth it!

Gunung Batok

 Setelah bersusah naik dan turun dari liat kawah, kita melanjutkan perjalanan ke bukit teletubbies.... yap this is the real version!!! Bagus dan keren! Kayak lukisan, kayak gambar di desktop windows, kayak background di foto studio but it's the real one.


Tree of life


They call it, Bukit Teletubbies. I call it, windows desktop background

Narsis sama habibi dari Mesir. Rana and Aya!


Setelah kita dari rangkaian perjalanan Bromo ini, kita naik Jeep lagi sampai ke desa yang tempat parkir travel tadi terus kita kanjut ke Coban Pelangi. Perjalanan ke Coban pelangi bakal saya post di next blogpost ya!!!

All in all, akhirnya saya ke Bromo walaupun telat tapi no problem. I've reached this place.

I'm proud being an Indonesian!!!

Believe me, you should go to Bromo at least once in your life if you're Indonesian.
You'll never regret it.



Regards,
Frela



Wednesday, December 19, 2012

Lovey dovey hectic week :D

Yep, this semester will be officially end. Yeaaaaaaay yeaaaay yeaaaaaay!

Nah, kurang lebih hectic week itu adalah deadline dari berbagai macam tugas.
Woooohooooo. Saya sih sebenernya stres menghadapi minggu ini, karena ini pasti bikin cuaaaaaaaaapeeek. Sampe makan pun nggak berasa -_____-
Tapi think positive aja, kan mau liburan huehehehe.

Aduh perasaan ini postingan gak jelas banget ya.

Diketik di tengah-tengah menunggu jilid laporan.

[Book Review] Supernova: Inteligensi Embun Pagi oleh Dee

Hai, hai, hai kalian semua yang gak sengaja mampir ke blog ini! Kali ini saya mau review buku penulis favorit saya, yaitu Dee atau Dewi...