Friday, December 07, 2012

Kisah Punggung Ayam di Negeri Orang

Aku punya kisah tentang sahabatku yang lahir di negeri orang lalu menjalani kehidupan keluarga imigran yang sederhana.
Setiap kali ibunya hendak menghidangkan daging ayam sebagai lauk, ibunya pergi ke pasar untuk membeli bagian punggungnya saja.
Hanya itu yang ibunya mampu beli.
Sahabatku pun beranjak besar tanpa tahu bahwa ayam memiliki bagian lain selain punggung.
Ia tidak tahu ada paha, dada, atau sayap.
Punggung jadi satu-satunya definisi yang ia punya tentang ayam.

Aku menghela napas, aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta.
Namun orang itu hanya mampu kugapai sebatas punggungnya saja.
Seseorang yang cuma sanggup kuhayati bayangannya dan takkan pernah kumiliki keutuhannya.
Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar, seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat sehalus udara, langit, awan atau hujan,
Sesorang yang selamanya harus dibiarkan berupa sebentuk punggung karena kalau sampai ia berbalik niscaya hatiku hangus oleh cinta dan siksa.

'Sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung ayam tanpa tau ada bagian lain. Ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki.'

Itu sebagai hadiah kisah sedihku tentang cinta sebatas punggung dan punggung ayam di negeri orang.


Kini aku tidak hanya mengetahui punggungnya saja,
matanya cokelat muda. Itu sudah lebih dari cukup.



Diambil dari Rectoverso karya Dee. Hanya Isyarat.

No comments:

Post a Comment

[Book Review] Supernova: Inteligensi Embun Pagi oleh Dee

Hai, hai, hai kalian semua yang gak sengaja mampir ke blog ini! Kali ini saya mau review buku penulis favorit saya, yaitu Dee atau Dewi...